Kegiatan FGD Interoperabilitas aplikasi untuk pelayanan telemedicine dan KIA di kabupaten Kulon Progo adalah salah satu aktivitas dalam penelitian “TemenKIA-ku” atau Telemedicine KIA di Kulon Progo yang dilakukan oleh peneliti di Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FKKMK) Universitas Gadjah Mada (UGM). Kegiatan ini bertujuan untuk menganalisis kebutuhan dan kondisi terkait interoperabilitas aplikasi KIA yang ada di Kabupaten Kulon Progo. 

Kegiatan ini dihadiri oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Kulon Progo, pengembang aplikasi BumilKu (kominfo), simpus jojok, SIMKIA dan SIMUNDU (Dinas Kesehatan Provinsi DIY). dr. Meni Neni Sitaresmi Sp.A(K), Ph.D memberikan pengantar yaitu harapan bahwa Focus Group Discussion ini dapat memfasilitasi kemungkinan interoperabilitas dan memberikan manfaat provider, dinas kesehatan dan beberapa pihak terkait. 

Sesi dilanjutkan dengan pemaparan singkat terkait interoperabilitas oleh dr. Guardian Yoki Sanjaya M.HlthInfo. Konsep interoperabilitas sudah cukup lama menjadi isu yang penting dalam bidang kesehatan. Namun masih perlu proses untuk implementasi interoperabilitas ini. Dengan adanya interoperabilitas, transaksi data diharapkan dapat saing bertukar untuk dimanfaatkan secara lebih efisien. Perlu dipikirkan bagaimana mengefisienkan sistem yang sduah berjalan tanpa mengurangi sistem yang sudah ada, karena sistem tersebut sudah dipakai dan ada investasi serta orang-orang sudah terbiasa menggunakan sistem tersebut. 

Tim operabilitas dari FKKMK UGM mendemokan proses interoperabilitas menggunakan format Fast Healthcare Interoperability Resource (FHIR) antara SIMPUS dan Aplikasi Nusacare yang menyediakan personal health record. Proses awal dilakukan dengan menginput hasil pemeriksaan antenatal care pada sistem SIMPUS. SIMPUS kemudian mengirimkan hasil input ke server FHIR. Aplikasi Nusacare mengambil data dari server FHIR dengan menggunakan primary key kode fasilitas kesehatan dan nomor rekam medis. Data yang sudah dimasukkan di SIMPUS akan muncul dalam aplikasi Nusacare secara benar. 

Sesi dilanjutkan dengan diskusi yang di moderatori oleh dr. Daryo Soemitro Sp.BS(K) dari Forkomtiknas.  Beberapa poin penting yang didapatkan dari diskusi  adalah sebagai berikut;

  • Perlu adanya aplikasi induk yang menjadi core dari sistem perjalanan hidup manusia (continuum of care)
  • Pengisian satu aplikasi dapat digunakan untuk berbagai aplikasi yang ada 
  • Aplikasi dapat menjawab 12 indikator Standar Pelayanan Minimal (SPM), 4 diantaranya terkait KIA yaitu ibu hamil, ibu bersalin, ibu nifas, dan bayi baru lahir
  • Dalam pelaksanaan interoperabilitas di Kulon Progo, masih ditemukan beberapa tantangan yaitu 
    • Keterbatasan sumber daya manusia (SDM) dalam bidang teknologi informasi karena adanya regulasi SDM di puskesmas dan dinas kesehatan, sehingga setiap ada aplikasi harus berkoordinasi dengan Kominfo 
    • Saat ini tidak ada pusat data dan informasi di dinas kesehatan kabupaten kulon progo. Sehingga setiap bagian/seksi mengelola data masing-masing program. 
    • Beberapa data dari program vertikal dari pemerintah pusat tidak melewati dinas kesehatan kabupaten karena langsung turun ke fasilitas pelayanan kesehatan, sehingga dinas kesehatan tidak memiliki data tersebut. 
    • SIMKIA saat ini sudah bisa mengirimkan datanya ke aplikasi Bumil-Ku. Namun SIMKIA belum bisa menerima data dari aplikasi lain karena primary key yang digunakan digenerate oleh sistem bukan menggunakan NIK. Beberapa hal yang perlu dipertimbangkan dalam penggunaan NIK sebagai primary key di bidang KIA ialah seorang wanita dapat hamil lebih dari 1 kali dan melakukan kunjungan juga lebih dari 1 kali.

Categories: Berita

0 Comments

Leave a Reply

Avatar placeholder

Your email address will not be published.