Jumat, 15 September 2023 | 15.30 – 17.00 WIB | Reporter: Hanifah Wulandari

Narasumber:

  1. Mamadou Alimou Barry, PharmD, MPH, MSC (HIS Governance Lead CHISU Global USA) “HIS Stages of continuous improvement”
  2. Milan Kovacevic, MSc (Resident Advisor, CHISU Serbia) “SOCI implementation in Serbia”
  3. Jacob Kawonga (Senior M&E Advisor, CHISU Malawi) “Lessons from Malawi HIS SOCI Assessment”

Moderator:

Dian Sulistiyowati, MKM (Ketua Tim Kerja Standarisasi Sistem Informasi PUSDATIN KEMENKES)

Reportase:

Penilaian kematangan digital telah dilakukan oleh Kementerian Kesehatan sejak 2019 dengan mengadopsi berbagai referensi indikator. Pada tahun 2021, Kementerian Kesehatan mengembangkan instrumen kematangan digital yang diukur berdasarkan komponen yang diadopsi dari instrumen HIS Stages of Continuous Improvement (SOCI). SOCI merupakan framework untuk mengukur progres Sistem Informasi Kesehatan (SIK) dari waktu ke waktu dengan mengetahui di mana posisi institusi saat ini. Asesmen SOCI harus dimulai dari menentukan data baseline kemudian menetapkan tujuan yang realistik dan dapat dicapai.

HOT Talks sesi 3 dengan tema “The HIS SOCI Implementation and Lesson Learned from other countries” membahas bagaimana pengalaman dari negara Serbia dan Malawi dalam menerapkan framework SOCI sehingga menjadi pembelajaran bagi Indonesia. Instrumen SOCI dikembangkan oleh United States Centers for Disease Control and Prevention (CDC), Health Data Collaborative digital health and interoperability working group, dan USAID-funded MEASURE Evaluation project. SOCI terdiri dari 5 domain inti sistem informasi kesehatan dan 39 sub domain yang dipetakan berdasarkan peningkatan berkelanjutan. Domain tersebut terdiri dari domain kepemimpinan dan tatakelola, manajemen dan SDM, infrastruktur teknologi informasi dan komunikasi, standar dan interoperabilitas, serta kualitas dan penggunaan data. Instrumen SOCI dapat diisi menggunakan format excel atau seperti yang dikembangkan di Indonesia menggunakan platform DHIS2.

Metodologi pengukuran SOCI meliputi:

  • Menyusun tim inti bersama dengan stakeholder kunci (Kementerian Kesehatan dan lembaga terkait)
  • Pengenalan instrumen SOCI
  • Menyusun kesepakatan terkait lingkup asesmen
  • Melakukan desk review untuk mengidentifikasi dan mengumpulkan referensi terkait 
  • Mengidentifikasi stakeholder SIK kunci yang akan dikaitkan dalam workshop asesmen
  • Melakukan desk review dokumen kunci yang terkait dengan status SIK saat ini
  • Memfasilitasi asesmen kelompok bersama stakeholder kunci eksternal

Pengalaman implementasi SOCI untuk menilai kematangan digital di Serbia, wilayah Eropa tenggara-tengah pada Juli dan Agustus 2021 dilakukan melibatkan kementerian kesehatan bersama badan asuransi kesehatan nasional, institut kesehatan masyarakat, serta kantor IT (e-government). Hasil pengukuran ini digunakan untuk mengembangkan rencana aksi nasional. Pendekatan yang dilakukan Serbia adalah dengan menetapkan dasar pengukuran yang sistematis untuk lanskap SIK di sektor kesehatan dengan menentukan baseline (akhir 2021) untuk peningkatan SIK. Kemudian Serbia menetapkan tujuan (akhir 2023) untuk semua subkomponen kesehatan digital untuk pengembangan SIK secara berkelanjutan. Langkah selanjutnya yaitu menetapkan peta jalan menuju sistem yang tangguh dan dapat dioperasikan, serta menyiapkan rencana aksi untuk perbaikan diikuti proses penilaian. Aspek infrastruktur teknologi informasi dan komunikasi (2,33) menjadi skor tertinggi saat ini dengan target capaian ke depan 3,67. Skor yang lebih rendah pada aspek kualitas dan penggunaan data (1,61 dengan target ke depan 2,33), kepemimpinan dan tata kelola (1,61 dengan target ke depan 2,33) serta manajemen dan SDM (1,61 dengan target ke depan 2,67).

Malawi, negara di bagian Afrika Timur, juga telah melakukan asesmen SOCI yang bertujuan untuk mengukur kematangan dan evolusi SIK, membantu negara untuk membuat tolok ukur dan memantau kemajuan implementasi SIK, serta menyediakan dasar untuk mengembangkan peta jalan untuk penguatan SIK. Sebanyak 43 stakeholder kunci yang terdiri dari kementerian kesehatan, WHO, PBB, lembaga termasuk CDC, LIN dan HISP terlibat dalam proses perencanaan peran dan strategi implementasi SOCI. Aspek kepemimpinan dan tatakelola menjadi skor tertinggi saat ini (3,7) dengan target capaian ke depan 4,8 serta skor terendah pada aspek infrastruktur teknologi informasi dan komunikasi (2,0) dengan target capaian ke depan 3,9. Meskipun sudah ada kebijakan, strategi, dan mekanisme koordinasi yang relevan, penegakan dan kepatuhan terhadap kebijakan masih menjadi tantangan. Terkait dengan infrastruktur, Malawi telah memiliki cetak biru di mana proses dan pendokumentasian beberapa sistem berfungsi namun pelacakan inventaris TIK, konektivitas dan kapasitas pengguna perlu diperkuat.

Dari hasil diskusi terkait seberapa sering sebaiknya SOCI dilakukan, kedua narasumber mengatakan idealnya dapat dilakukan 2 tahun sekali karena perubahannya tidak terlalu cepat dan membutuhkan banyak stakeholder yang terlibat. Setelah 2 tahun dapat dikembangkan rencana aksi. Konsep SOCI dapat dilakukan dari pemerintah pusat secara top down maupun oleh pemerintah daerah secara mandiri (bottom up) menyesuaikan masalah utama di masing-masing wilayah. Hal ini dapat tergantung pada struktur sistem kesehatan misalnya suatu negara yang menganut sistem desentralisasi dapat melakukan implementasi SOCI secara bottom up.

Materi narasumberhttp://link.kemkes.go.id/BelajarDMI

Streaming HOT Talks! Sesi 3

Narasumber 1: Mamadou Alimou Barry, PharmD, MPH, MSC (HIS Governance Lead CHISU Global USA) “HIS Stages of continuous improvement”

Narasumber 2: Milan Kovacevic, MSc (Resident Advisor, CHISU Serbia) “SOCI implementation in Serbia”

Narasumber 3: Jacob Kawonga (Senior M&E Advisor, CHISU Malawi) “Lessons from Malawi HIS SOCI Assessment”